Efek Magis Bahasa

Artikel kali ini merupakan bagian dari seri artikel yang akan mengulas secara khusus berkenaan dengan penggunaan bahasa. Hal ini mungkin merupakan suatu yang sangat jarang diperhatikan karena setiap individu menggunakannya setiap hari. Namun tanpa disadari semua orang tentunya pernah mengalami situasi yang tidak mengenakan yang disebabkan oleh kesalahpahaman. Beberapa e-mail yang saya terima juga menyatakan sulitnya sekaligus bertanya metode atau cara berkomunikasi yang lebih efektif apakah itu untuk menasehati anak, berbicara dengan rekan kerja, pasangan dan lainnya.

Karena pembahasan mengenai topik yang satu ini cukup luas maka saya akan membaginya dalam beberapa artikel. Harapan setelahnya semoga anda dapat menggunakannya dalam keseharian sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasi anda.

Bahasa dalam keseharian

Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia di muka bumi. Semua pencapaian manusia, terlepas dari baik ataupun buruk, memiliki kaitan yang sangat erat dengan penggunaan bahasa. Jika ditelaah lebih lanjut, manusia menggunakan bahasa untuk dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk merepresentasikan pengalaman yang terjadi pada dirinya. Untuk memahami pengalaman yang terjadi pada dirinya, sebelumnya individu perlu membuat representasi atas pengalaman tersebut. Representasi mental yang dibuat oleh individu merupakan model dari pengalaman yang terjadi padanya. Harap diingat bahwa model pengalaman tidak sama dengan pengalaman yang sebenarnya. Untuk membuat model dari suatu pengalaman, individu perlu menggunakan bahasa. Penggunaan selanjutnya adalah untuk mengkomunikasikan model pengalaman yang telah dibuat kepada orang lain, sehingga setelahnya orang yang menerima dapat kembali lagi membuat model dari model yang disampaikan. (ngarti teu ).

Situasi tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik yang salah satunya disebabkan oleh kesalahpahaman. Kesalahpahaman ini terjadi salah satunya disebabkan karena model pengalaman yang diterima oleh seorang individu berbeda dengan model pengalaman yang diberikan (pada awalnya). Terjadi pendistorsian model pengalaman yang dikomuikasikan. Wajar saja karena kedua model tersebut dibuat oleh individu yang berbeda, berbeda pada belief, value, reality strategy dan lainnya. Selain itu keterbatasan bahasa juga memegang andil pada kesalahapahaman ini. Bahasa yang dimiliki manusia terlampau sedikit untuk merepresentasikan ragam pengalaman yang bisa terjadi. Alfred Korzybski, pada bukunya Science and Sanity (1933), memperjelas hal ini melalui law of individuality (hukum individualitas/keunikan) yang kurang lebih menyatakan bahwa setiap pengalaman, setiap orang, setiap benda adalah unik satu sama lain sehingga tidak mungkin ada kesamaan yang benar-benar identik. Kesalahpahaman dapat terjadi salah satunya diakibatkan oleh keterbatasan bahasa untuk mengidentifikasi perbedaan antara beberapa pengalaman yang “serupa”. Hal ini menyebabkan individu terjebak pada kebingungan antara beberapa pengalaman yang “menurutnya” serupa. Kompensasi atas kondisi ini dengan membuat generalisasi antara semua pengalaman tersebut untuk memudahkannya mengkomunikasikan model dari pengalaman tersebut. Sehingga masih menurut Korzybski, akan lebih baik jika individu memberikan tenggang waktu (delay) untuk mengetahui karakteristik unik atau interpretasi alternatif sebelum ia memberikan respon atas pengalaman tersebut.

Mengetahui akan hal ini dapat membuat anda paham bahwa permasalahan sesungguhnya bukanlah terletak pada seberapa identiknya model pengalaman yang dibuat relatif jika dibandingkan dengan pengalaman yang sebenarnya, karena hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin. Model pengalaman yang anda buat pasti akan selalu memiliki kekurangan dibandingkan dengan pengalaman yang sesungguhnya. Ketika anda menceritakan mengenai pengalaman anda saat membaca artikel ini, apakah anda juga dapat merasakan sensasi yang muncul di telapak kaki kiri anda? Hal yang lebih tepat tentunya adalah dengan lebih berfokus pada upaya-upaya untuk memperbesar model dunia yang anda buat di pikiran anda. Dan hal ini dapat dilakukan salah satunya adalah dengan belajar berkelanjutan

Dalam membuat model mental atas suatu pengalaman, manusia sangat bergantung pada sensory experience, informasi yang diterima oleh panca indra. Berbagai informasi yang diterima membentuk pengalaman primer bagi si individu. Selain mengandalkan informasi yang berasal dari luar, yang diterima melalui panca indra, manusia juga memiliki jaringan informasi yang ada dalam dirinya. Jaringan informasi internal ini meliputi belief, value, pemikiran yang lainnya. Jaringan informasi internal ini pada gilirannya mengarahkan panca indra dalam mengambil informasi yang ada di luar dirinya dan membentuk pengalaman sekunder berdasarkan informasi yang masuk melalui panca indra. Hal ini dilakukan melalui mekanisme generalisasi, distorsi dan penghapusan (deletion). Ambil contoh sebagai berikut, jika anda memiliki belief bahwa anda hanya dapat belajar dari orang yang lebih tua, maka tentunya anda akan membatasi diri dari belajar pada orang yang lebih muda. Walaupun pada kenyataannya banyak juga orang muda yang memiliki pemahaman lebih dibandingkan orang-orang yang relatif tua. Demikian juga halnya bahwa banyak juga orang tua yang memiliki wawasan jauh lebih kurang dibandingkan orang-orang muda. Sehingga belief ini disadari atau tidak membatasi model dunia anda yang pada akhirnya membatasi ruang gerak anda.

Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jaringan informasi internal, misalnya belief dapat membatasi model mental yang dimiliki seorang individu. Sehingga untuk memperluas model mental, seorang individu perlu lebih mengandalkan pada sensory experience-nya. Kondisi ini dikenal dalam NLP sebagai up time, ketika seorang individu memfokuskan panca indranya pada lingkungan sekitar, di tempat dan saatnya ia berada, tanpa intervensi dari jaringan informasi internalnya. Ketika individu mengarahkan perhatiannya lebih pada informasi yang ditangkap oleh panca indranya dan mengurangi intervensi dari jaringan informasi internalnya maka ia membentuk model pengalaman yang lebih kaya.

Hubungan kata-kata dan pengalaman

Seperti yang telah diuraikan pada bagian awal dari artikel ini, bahwa semua pencapaian manusia tidak terlepas dari penggunaan kata-kata. Hal ini disebabkan salah satunya adalah kata-kata dapat memberikan interpretasi dari suatu pengalaman. Sangatlah besar peranan kata-kata pada suatu pengalaman individu. Kata-kata dapat mengarahkan perhatian individu dengan menempatkan perhatian utama pada satu pernyataan sementara pernyataan yang lain sebagai latar belakangnya. Ambil contoh kata “tapi”, “dan” dan “walaupun”.

Kata “tapi” menempatkan perhatian utama pada kalimat setelahnya dan menempatkan kalimat utama sebagai latar belakang. Contohnya, “Saya sedang tidak punya uang sekarang tapi besok saya mendapat banyak uang.”

Kata “dan” menempatkan perhatian secara seimbang pada kedua kalimat. Contohnya, “Saya tidak punya uang sekarang dan besok saya mendapat banyak uang.”

Sementara kata “walaupun” menempatkan perhatian pada kalimat pertama dan kalimat setelahnya sebagai latar belakang. Contohnya, “Saya tidak punya uang sekarang walaupun saya besok saya mendapat banyak uang.”

Pehatikan pula contoh yang berikut:

“Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau jika kamu bersedia bekerja keras.”

“Dengan bekerja keras maka kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau.”

Kalimat pertama lebih memberikan motivasi dengan menempatkan kompensasi di awal kalimat. Sebaliknya kalimat kedua, kurang memotivasi karena memberikan perhatian pada hal yang perlu dilakukan dengan menempatkannya di awal kalimat.

Penutup

Saya mengerti sepenuhnya artikel kali ini terlalu sedikit untuk menggambarkan mengenai pengaruh bahasa dalam membentuk pengalaman. Anda mungkin belum sepenuhnya dapat memegang dengan kuat berbagai kaidah yang lebih mendalam berikut dengan aplikasinya dalam keseharian. Khawatirlah sedikit saja, karena pada tulisan berikut saya akan menjelaskan lebih mendalam lagi.

 

Efek Magis Bahasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top